Main Kelereng
Kelereng (atau dalam bahasa Jawa disebut nèkeran) adalah mainan kecil
berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Kelereng adalah
mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca atau tanah liat. Ukuran
kelereng sangat bermacam-macam, umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung.
Orang Betawi menyebut kelereng dengan nama gundu. Orang Jawa, neker. Di
Sunda, kaleci. Palembang, ekar, di Banjar, kleker dan di bagian Riau Pesisir
disebut permainan Guli.

Main Karet
Karet gelang juga bisa dijadikan mainan yang asyik, antara lain
jepret-jepretan dengan karet gelang. Kulit manusia yang terkena jepretan karet
gelang biasanya tidak apa-apa, tapi bila dijepretkan ke binatang, muka orang
atau terkena mata bisa berbahaya.
Karet gelang juga bisa dilontarkan dengan pistol-pistolan buatan sendiri
dari kayu bekas yang ringan atau sumpit sekali pakai. Di Jepang bahkan ada
kejuaraan nasional menembak karet gelang.

Main Egrang
permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara pasti dari mana
asalnya, tetapi dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama berbeda-beda
seperti : sebagian wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata
Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan
di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki
panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah
pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di
Kalimantan Selatan disebut batungkau.
Egrang terbuat dari batang bambu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter.
Sekitar 50cm dari bawah, dibuat tempat berpijak kaki yang rata dengan lebar
kurang lebih 20cm. Cara memainkannya adalah dengan berlomba berjalan
menggunakan egrang tersebut dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya. Orang yang
paling cepat dan tidak terjatuh dialah pemenangnya.

Main Engklek
atau Engkek-Engkek
Permainan dengan cara membuat kotak-kotak di jalan atau lantai kemudian
melewati kotak dengan cara melompat dengan kaki sebelah, sambil mengambil
gacuk.
Itulah jenis permainan yang dapa menyatukan kebersamaan sebelum adanya
Playstation, Game Online dan lain-lain hanya ada Gameboot Tetris waktu itu,
itupun tak semua memilikinya karena tak terjangkau harganya .

Meriam atau
Legum
Legum (Melayu Kuala Singkawang menyebutnya Lagum dan bahasa Melayu
Pontianak menyebutnya MERIAM) adalah permainan musiman yang terbuat dari Bambu
yang panjangnya kira-kira 2 meter atau 1 meter setengah yang dibolongin ruasnya
dari mulai ruas pertama, kedua dan seterusnya namun untuk ruas yang terakhir
tidak dibolongkan karena untuk menahan minyak tanah didalamnya agar tidak
bocor.
Legum dimainkan saat bulan ramadhan dan berakhir saat lebaran tiba, untuk
bambu yang digunakan tidaklah bambu sembarangan melainkan tebalnya kurang lebih
1 cm dan untuk mendapatkan suara yang khas dicari bambu yang sedikit
melengkung.
Gasing
Pantak gasing bukan hanya permainan anak-anak melainkan permainan orang
tua, saya kurang tau permaianan ini bagaimana proses menilainya karena kami
saat kecil dilarang untuk main gasing karena membahayakan bagi keselamatan.

Benteng-Bentengan
Permainan bentengan adalah salah satu dari permainan tradisional. Di daerah
Jawa Barat permainan ini lebih dikenal dengan nama rerebonan, sedangkan di
daerah lain permainan ini lebih dikenal dengan nama prisprisan, omer, dan
jek-jekan. Dalam permainan bentengan sekelompok anak-anak membagi diri menjadi
dua kelompok yang akan saling berlawanan. Setelah terbentuk dua kelompok yang
saling berhadapan, mereka mencari posisi masing-masing sebagai basis mereka
atau yang di sebut dengan benteng. Biasanya sebuah tiang atau pilar. Permainan
ini tidak menggunakan alat apa pun. Masing-masing benteng kedua belah pihak
harus terletak agak berjauhan dan dapat dilihat oleh satu sama lain.
Biasanya permainan ini dimulai dengan majunya salah satu pemain
daribentengan-1 salah satu benteng untuk menantang para pemain dari benteng
lawannya. Pemain dari benteng lawannya akan maju untuk mengejar. Jika pemain
dari benteng penantang ini dapat terkejar dan dapat disentuh oleh pemain lawan,
maka pemain penantang dijadikan sebagai tawanan. Biasanya pemain penantang akan
berlari menghindar atau kembali ke bentengnya sendiri. Teman-teman dari benteng
penantang ini, akan mengejar pemain dari benteng lawan yang memburu tadi.
Demikian seterusnya sehingga terjadi saling kejar mengejar antara pemain dari
kedua benteng. Sering kali terjadi adalah salah satu benteng kehabisan pemain
karena ditawan dan bentengnya dikepung oleh lawannya. Para pengepung ini, dapat
membebaskan teman-temannya yang menjadi tawanan. Setelah dibebaskan, para
mantan tawanan ini dapat turut mengepung benteng lawannya. Sisa pemain dari
benteng yang terkepung, dapat mengejar para pengepung untuk mempertahankan
bentengnya, atau balik mengirimkan penyerang ke benteng pengepung jika benteng
para pengepung tidak ada penjaganya.

Petak Umpet
Petak umpet atau dalam bahasa Inggris Hide and Seek adalah salah satu
permainan tradisional anak-anak yang sudah sangat terkenal. Selain di Indonesia
permainan ini juga sangat digemari oleh anak-anak diluar negeri. Untuk
memainkan permainan ini, kita membutuhkan banyak orang minimal 4 atau 5 orang.
Permainan ini sangat populer dibanding permainan tradisional yang lain karena
permainan ini sangat mengasikan dan juga banyak manfaatnya.
Sekedar pemberitahuan kalau permainan ini ditempat saya (Bagansiapiapi)
namanya Ondok-Ondok hehe.

Ketapel
Sebenarnya ketapel ini bukan permainan, tetapi anak-anak sewaktu saya kecil
seringkali memiliki ketapel untuk bermain dan berburu burung. Permainan dengan
ketapel ini adalah dengan lomba menembak sasaran seperti kaleng bekas atau buah.
Ketapel terbuat dari cabang pohon dan dipotong membentuk huruf “Y”, peluru
ketapel dapat dengan menggunakan batu kerikil atau buah jambu yang masih kecil.
Untuk pelontarnya digunakan karet getah yang di kepang dan diikat di masing2
cabang ketapel, batu yang menjadi peluru ditahan di sebuah lembaran karet atau
bahan kulit.
Lain daerah lain pula nama istilahnya, tapi disini saya cuma tau nama dari
kampung saya yaitu Main Cupang.

Patuk Lele
Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu/ranting kayu kecil
yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30-40 cm dan lainnya berukuran
lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh diantara lubang yang
telah di buat ditanah (bisa juga pakai ganjalan batu) lalu dipukul oleh tongkat
bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul
akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak
mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang
berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang
terakhir.
Ini salah satu permainan favourite saya waktu kecil, tapi untuk aturan
permainannya saya sendiri sudah lupa. Maklumlah udah ada sekitar 15 tahun yang
lalu mainnya hehe. sekarang kan dah tuir(tua) haha.

Main
Pecah Piring
Main pecah piring disini bukan berarti memecahkan piring yang biasa kita
gunakan untuk makan tapi piring disini dibuat dari tutup botol yang diratakan
dan dilobangi tengahnya pake paku dan ada juga yang menggunakan tempurung
kelepa. Dalam permainan dibutuhkan pecah piring(tutup botol yang sudah
dilobangi) sebanyak 10 – 20 keping tutup botol, 1 Bola Kasti(ada juga yang pake
bola lain), Lidi atau kawat yang ditancapkan ketanah untuk menyusun piringan
tutup botol ketika main dan orangnya minimal 6 orang yang akan dibagi menjadi 2
kelompok.
Susun pecah piringnya didekat lidi/kawat, trus 1 orang menjaga pecahan
piring untuk menangkap bola ketika regu lawan memecahkan tumpukan piring yang
tersusun. Setelah dipecahkan, sipemecah berlari menghindari lemparan bola dari
regu yang jaga. ya sampai situ aja saya ingat, dah pada lupa..

Main Simbang
atau Bekel
Besimbang atau bermain simbang adalah suatu permainan yang terdapat di
Sedanau, Kepulauan Riau. Besimbang mirip dengan bekel, hanya saja, bola “induk”
yang digunakan bukanlah bola bekel yang dapat memantul, melainkan terbuat dari
kulit-kulit kerang ataupun kulit siput yang bagus dan licin. Permainan ini
telah ada sejak zaman kekuasaan Sultan Riau pada abad XVII.
Jumlah pemain besimbang 2–6 orang, dengan usia 6–7 tahun. Permainan ini
milik kaum perempuan. Artinya, hanya kaum perempuan sajalah yang memainkannya.
Ada dua cara dalam bermain simbang, yaitu: main nyurang dan main berundung.
Main nyurang, artinya bermain seorang-seorang (individual) dengan jumlah pemain
2–4 orang. Sedangkan, main berundung adalah bermain dengan sistem beregu yang
terdiri dari dua regu dan jumlah pemainnya 3–6 orang. Aturan mainnya, baik itu
main nyurung maupun berundung nyaris sama, yaitu seseorang harus melambungkan
“bola induk”, kemudian mengambil buah simbang yang berjumlah 5–6 buah. Sekali
melambungkannya pemain diharuskan mengambil buah simbang yang jumlahnya
bertambah banyak (lambungan yang pertama sebuah; kedua dua buah; dan
seterusnya). Jika seluruh simbang telah terambil, maka yang bersangkutan
mendapat angka. Sebaliknya, jika sedang melambungkan “bola induk” tetapi tidak
berhasil mengambil simbang yang ditentukan, maka dia dinyatakan des dan
digantikan oleh pemain lainnya.

Layang-layang
Ada catatan yang menyebutkan bahwa permainan layang-layang telah ada di
Cina sejak tahun 2500 Sebelum Masehi. Konon, layang-layang pertama berasal dari
caping petani Cina yang melayang karena diterbangkan angin. Namun baru-baru ini
telah ditemukan lukisan orang yang sedang bermain layang-layang pada dinding
gua di daerah Sulawesi Tenggara. Gua ini diperkirakan pernah ditinggali manusia
suku Muna pada zaman batu.
Layang-layang tradisional suku Muna bernama “Kaghati”. Layang-layang ini masih dibuat hingga sekarang, lo. Kaghati terbuat dari daun ubi hutan yang disebut kolophe dan bambu rami. Benangnya terbuat dari serat nanas. Kaghati sering mengikuti festival layang-layang nasional maupun festival internasional. Kaghati pernah mendapatkan penghargaan dari kalangan pecinta layang-layang sebagai layang-layang paling alami yang masih bertahan hingga saat ini.
Layang-layang tradisional suku Muna bernama “Kaghati”. Layang-layang ini masih dibuat hingga sekarang, lo. Kaghati terbuat dari daun ubi hutan yang disebut kolophe dan bambu rami. Benangnya terbuat dari serat nanas. Kaghati sering mengikuti festival layang-layang nasional maupun festival internasional. Kaghati pernah mendapatkan penghargaan dari kalangan pecinta layang-layang sebagai layang-layang paling alami yang masih bertahan hingga saat ini.
Layang-Layang terbuat dari lembaran bahan tipis berkerangka yang
diterbangkan ke udara. Lembaran tipis ini terhubungkan dengan tali atau benang
sebagai pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai
alat pembumbungnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar